Kapan Kita Jadi Gila Uang, Tapi Nggak Sadar?

15-Aug-2026 04:00:00pm
Kapan Kita Jadi Gila Uang, Tapi Nggak Sadar?

Awalnya sederhana saja. Kita cuma ingin punya uang. Biar bisa beli kebutuhan, bantu orang tua, atau setidaknya tidak merepotkan siapa-siapa. Niatnya baik, bahkan bisa dibilang wajar. Tidak ada yang aneh dari keinginan itu, tapi kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya ada yang berubah.

Saya pribadi mulai sadar, entah sejak kapan uang tidak lagi sekadar “kebutuhan”. Dia pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang selalu ingin dikejar, tapi tidak pernah benar-benar terasa cukup. Dulu, punya sedikit sudah senang. Sekarang, bahkan saat ada, tetap saja merasa kurang. Dan anehnya, perasaan itu datang tanpa kita sadar kapan mulainya.

Mungkin semuanya dimulai dari hal kecil. Dari melihat orang lain. Dari membandingkan tanpa sengaja. Buka media sosial sebentar, niatnya cuma scroll santai, tapi pulangnya bawa pikiran yang tidak santai sama sekali.

Ada yang liburan, ada yang beli ini itu, ada yang kelihatannya hidupnya “sudah jadi”. Padahal kita tahu, itu cuma potongan kecil dari hidup merek, tapi tetap saja, otak kita suka usil. Mulai membandingkan. Mulai bertanya, “Kok dia bisa, aku belum?”

Dari situ, pelan-pelan muncul keinginan yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan. Awalnya cuma “ingin”, tapi lama-lama berubah jadi “harus”. Harus punya. Harus bisa. Harus terlihat berhasil. Dan tanpa sadar, kita mulai mengukur diri dari hal-hal itu.

Yang lebih lucu, atau mungkin lebih menyedihkan, kita sering merasa capek, tapi tidak tahu sebenarnya capek karena apa. Kerja iya. Sibuk iya.Cari uang juga iya, tapi tetap saja ada rasa kosong yang tidak jelas asalnya. Seolah-olah kita sedang berlari, tapi tidak tahu garis akhirnya di mana.

Saya juga pernah ada di titik itu. Ngerasa harus produktif terus, harus menghasilkan sesuatu, harus “bergerak”. Kalau diam sebentar saja, rasanya bersalah. Padahal tubuh lagi butuh istirahat, tapi pikiran langsung bilang, “Nanti ketinggalan.”

Ketinggalan siapa? Kadang saya sendiri juga tidak tahu.

Mungkin yang paling jarang kita lakukan adalah berhenti dan bertanya ke diri sendiri: sebenarnya kita mencari uang untuk apa? Untuk hidup lebih tenang, atau justru menambah beban pikiran?

Karena kalau jujur, tidak semua yang menghasilkan uang membuat kita merasa lebih hidup. Kadang justru sebaliknya.

Yang menarik, kita dari kecil diajarkan banyak hal. Harus rajin, harus kerja keras, harus sukses, tapi hampir tidak pernah diajarkan bagaimana cara merasa cukup. Akhirnya kita tumbuh jadi orang yang terus mengejar, tanpa pernah benar-benar menikmati apa yang sudah ada.

Selalu ingin naik, tapi lupa berhenti sebentar untuk melihat, “Sebenarnya saya sudah sampai di mana?”

Dan di situlah saya mulai merasa, mungkin “gila uang” itu bukan sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Tidak ada momen dramatis yang langsung mengubah kita. Semua terjadi pelan-pelan. Dari kebiasaan kecil, dari perbandingan, dari rasa tidak puas yang terus dipelihara.

Padahal, uang itu sendiri tidak pernah salah. Kita tetap butuh uang, itu jelas. Tapi ketika uang mulai menentukan bagaimana kita melihat diri sendiri, bagaimana kita menilai orang lain, bahkan bagaimana kita merasa bahagia, di situ mungkin kita perlu berhenti sebentar.

Bukan untuk menyerah, tapi untuk sadar.

Bahwa mungkin, selama ini kita bukan cuma sedang mencari uang, tapi juga sedang kehilangan sesuatu yang lebih penting: rasa cukup. Dan jujur saja, menemukan rasa cukup itu ternyata jauh lebih sulit daripada mencari uang itu sendiri.

Penulis: Anasthasya Emilrensi