Roswita Garu

Ketertarikannya pada dunia jurnalistik membawa Maria Roswita Garu memilih Program Studi Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di Universitas Katolik Widya Mandira. “Saya menyukai dunia jurnalistik dan ingin mengembangkan kemampuan dalam berkomunikasi,” ujarnya.

Sebagai mahasiswa angkatan 2015, Maria ditempa untuk mengolah informasi, membaca isu dari berbagai sudut pandang, dan menyampaikan gagasan secara runtut. Ia tak menyangka bahwa bekal tersebut kelak menjadi pondasi penting dalam perjalanan kariernya. “Selama kuliah, saya belajar memahami persoalan secara komprehensif. Itu yang membuat saya lebih percaya diri ketika harus menganalisis masalah dan menyusun rekomendasi,” katanya.

Perjalanan profesional Maria tidak langsung berlabuh di dunia birokrasi. Ia memulai karier sebagai Admin Umum di sebuah pabrik roti di Kabupaten Kupang. Setelah itu, ia sempat bekerja sebagai resepsionis hotel. Pengalaman-pengalaman tersebut, menurutnya, justru mengasah kepekaan interpersonal. “Dari pekerjaan-pekerjaan awal itu saya belajar menghadapi banyak karakter orang dan pentingnya komunikasi yang baik,” ungkapnya.

Titik balik datang pada 2024 ketika Maria memutuskan mengikuti seleksi CPNS. Setahun kemudian, ia resmi dinyatakan lulus dan kini bertugas di Dinas Perhubungan Provinsi NTT sebagai Analis Kebijakan Ahli Pertama. Dalam perannya, Maria terlibat langsung dalam kajian dan analisis kebijakan di bidang lalu lintas jalan, sebuah tanggung jawab yang menuntut ketelitian, koordinasi, dan kemampuan berpikir kritis.

Peralihan dari dunia kerja sebelumnya ke ritme birokrasi yang cepat dan penuh tuntutan tentu bukan perkara mudah. “Ekspektasinya lebih tinggi dibandingkan saat kuliah,” tuturnya jujur. Namun ia memilih cara sederhana untuk beradaptasi. “Saya banyak bertanya, belajar dari rekan yang lebih berpengalaman, dan berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.”

Menurut Maria, satu hal yang paling membantunya bertahan dan berkembang adalah kemampuan bekerja sama. “Dunia kerja itu menuntut kolaborasi. Pengalaman tugas kelompok selama kuliah sangat membantu saya membangun kerja sama yang efektif,” katanya. Baginya, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi juga tentang mendengarkan dan membangun kepercayaan.

Ia pun menyimpan pesan penting bagi mahasiswa. “Nilai akademik memang harus diperhatikan, tapi kemampuan juga harus terus dikembangkan, terutama komunikasi interpersonal,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya empati, kejelasan dalam berbicara, dan kemampuan membangun relasi. “Komunikasi interpersonal adalah kunci di hampir semua bidang pekerjaan. Kemampuan ini bisa membuka banyak pintu.”

Di akhir kisahnya, Maria menyampaikan harapan untuk almamaternya. “Saya berharap UNWIRA terus melahirkan lulusan yang kompeten, berintegritas, inovatif, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Dari ruang kelas jurnalistik hingga ruang perumusan kebijakan publik, perjalanan Maria Roswita Garu menjadi bukti bahwa kemampuan komunikasi yang diasah dengan konsisten dapat membawa seseorang melangkah jauh menjadi penghubung antara gagasan dan kebijakan, antara suara masyarakat dan keputusan yang berdampak luas.