Dari Jalan dan Jembatan ke Cerita Visual : Julius Josep Freinademetz Seran Goran dan Cara Baru Berkontribusi untuk Pembangunan

Julius Goran
Bagi Julius Josep Freinademetz Seran Goran, pembangunan tidak selalu harus hadir dalam bentuk beton, aspal, atau struktur jembatan. Alumni Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Mandira Kupang angkatan 2019 ini justru menemukan cara lain untuk berkontribusi: melalui cerita visual.
Lahir dan besar di Timor Tengah Utara, wilayah afirmasi di Nusa Tenggara Timur, Julius tumbuh dengan pengalaman langsung tentang keterbatasan infrastruktur. Jalan yang rusak, akses yang sulit, dan pembangunan yang tidak merata menjadi realitas sehari-hari. “Saya memilih Teknik Sipil karena tertarik pada pembangunan infrastruktur, khususnya jalan dan jembatan. Saya melihat sendiri bagaimana keterbatasan itu berdampak besar pada kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.
Ketertarikan itu membawanya menempuh pendidikan Teknik Sipil untuk melanjutkan jalur yang sudah ia kenal sejak SMK. Di bangku kuliah, Julius tidak hanya belajar soal perhitungan teknis, tetapi juga menempa cara berpikir sistematis, disiplin, dan kemampuan bekerja dalam tekanan. Pengalaman lapangan terkait jalan dan jembatan, serta keterlibatannya dalam organisasi kemahasiswaan dan kegiatan pengabdian masyarakat, menjadi ruang belajar yang sangat membentuk karakternya. Di sanalah ia belajar kepemimpinan, kerja tim, dan pengambilan keputusan di situasi nyata.
Namun perjalanan setelah lulus tidak berjalan lurus. Dunia kerja menghadirkan ketidakpastian, terutama ketika kesempatan yang benar-benar linier dengan bidang studi terasa terbatas. Alih-alih berhenti atau merasa buntu, Julius memilih tetap bergerak. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan mulai mendokumentasikan proses pembangunan dan pendidikan di sekitarnya. Dari sana, jalur baru perlahan terbuka.
Kini, Julius aktif di bidang kreatif dan dokumentasi sebagai videografer, editor video, sekaligus pengelola konten media sosial. Ia mengerjakan video dokumenter, video promosi, hingga kampanye kreatif untuk institusi, UMKM, dan kegiatan sosial. Tak hanya itu, ia juga terlibat sejak tahap awal yaitu menyusun konsep, membangun storytelling visual, hingga mengelola konten digital secara strategis. Di sela aktivitas kreatifnya, Julius tetap mengembangkan diri di bidang perencanaan dan manajemen proyek infrastruktur, serta bekerja sebagai freelancer desainer bangunan skala kecil.
Baginya, dunia visual dan teknik tidaklah bertentangan. Justru sebaliknya, keduanya saling menguatkan. “Aktivitas ini melatih saya dalam komunikasi, manajemen waktu, dan kerja tim. Hal-hal ini sangat relevan dengan latar belakang teknik,” katanya. Kemampuan berpikir sistematis dan manajemen proyek yang ia pelajari semasa kuliah kini menjadi fondasi penting dalam mengelola pekerjaan kreatif yang menuntut ketepatan, tenggat waktu, dan kolaborasi.
Tantangan terbesar pasca-kelulusan, menurut Julius, adalah menemukan arah di tengah ketidakpastian. Ia menyikapinya dengan tetap produktif, terbuka pada hal-hal baru, dan memaksimalkan keterampilan yang dimiliki sambil menyiapkan langkah jangka panjang, termasuk rencana melanjutkan studi. Prinsipnya sederhana: terus bergerak sambil belajar.
Kepada mahasiswa yang tengah mempersiapkan masa depan, Julius menitipkan pesan reflektif. Jangan terpaku pada nilai akademik semata. “Aktiflah mengembangkan soft skill, relasi, dan pengalaman. Jangan takut mencoba dan gagal, karena dari situlah kita belajar. Yang paling penting adalah mengenali tujuan hidup dan konsisten dalam berproses,” ujarnya.
Ia juga menyimpan harapan besar untuk almamater dan jejaring alumni. Julius berharap universitas terus menjadi ruang yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, berkarakter, dan peduli pada masyarakat. Sementara bagi komunitas alumni, ia membayangkan jejaring yang semakin solid, saling menopang, membuka jalan, dan menjadi jembatan antara dunia kampus dan dunia profesional.
Dari jalan dan jembatan hingga kamera dan cerita visual, perjalanan Julius membuktikan bahwa kontribusi untuk pembangunan bisa hadir dalam banyak bentuk. Selama tujuannya sama yaitu membawa perubahan dan memberi dampak maka setiap jalan layak untuk ditempuh.