Maria Gracella Gampur, Mengubah Ruang BK Menjadi Ruang Aman

Bagi sebagian siswa, ruang Bimbingan dan Konseling kerap terasa menegangkan. Identik dengan panggilan karena pelanggaran atau teguran karena kesalahan. Namun, di tangan Maria Gracella Gampur, ruang itu justru berubah menjadi tempat pulang sementara. Sebuah ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi.
Alumni Program Studi Bimbingan dan Konseling angkatan 2018 ini memang sejak awal tidak ingin menjadi “polisi sekolah.” Ia memilih jalan berbeda, yaitu menjadi sahabat bagi siswa. Keputusan itu lahir dari keyakinannya bahwa setiap anak datang ke sekolah bukan hanya membawa buku dan tugas, tetapi juga persoalan, keresahan, bahkan luka yang tak selalu terlihat.
Setelah menyelesaikan studi dan meraih gelar Sarjana Pendidikan pada akhir 2022, Maria tidak langsung berhenti belajar. Ia mengikuti Program PPG Prajabatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Indonesia selama satu tahun penuh. Proses itu menguatkan kompetensinya sekaligus membentuknya menjadi guru profesional. Pada Agustus 2024, gelar S.Pd.,Gr resmi ia sandang.
Langkah berikutnya tak kalah menantang. Ia mengikuti seleksi Aparatur Sipil Negara yang dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Negara. Serangkaian tes ia lalui hingga akhirnya dinyatakan lulus pada 2025 dan ditempatkan sebagai guru BK di SMPN 11 Kota Kupang.
Memasuki dunia kerja menjadi pengalaman baru yang penuh dinamika. Ritme sekolah yang cepat, karakter siswa yang beragam, hingga tuntutan administrasi membuatnya harus cepat beradaptasi. Namun, ia menyadari, inti dari pekerjaannya tetap sama yaitu membangun karakter dan membantu siswa menemukan jalan keluar dari masalah mereka.
Sebagai guru BK, Maria tidak hanya menangani persoalan disiplin. Ia menjadi pelopor pembentukan karakter, jembatan komunikasi antara siswa dan sekolah, sekaligus pendengar yang setia. Teknik-teknik konseling yang ia pelajari selama kuliah dan pengalaman magang menjadi bekal penting dalam menghadapi situasi nyata di lapangan.
Ia memegang satu prinsip sederhana, tetapi kuat bahwa mencintai siswa seperti mencintai diri sendiri. Dengan pendekatan empati, ia berusaha memahami sebelum menilai. Baginya, setiap anak berhak didengar dan dibimbing, bukan dicap.
Kepada mahasiswa yang sedang menyiapkan masa depan, Maria berpesan agar tetap semangat mengejar mimpi dan memanfaatkan waktu kuliah sebaik mungkin. Impian besar, menurutnya, harus diiringi kerja keras dan komitmen untuk terus belajar.
Kini, di tengah hiruk-pikuk kehidupan sekolah di Kota Kupang, Maria Gracella Gampur menjalankan perannya dengan tenang, tapi pasti. Di ruang BK yang sederhana itu, ia membuktikan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari panggung besar. Kadang, perubahan dimulai dari satu percakapan tulus antara seorang guru dan siswanya.
Punya cerita inspiratif? Bagikan sekarang!