Fr. Paulinus Petrus Batu: Mengawal Akuntabilitas Keuangan dari Kampus ke Dunia Kerja

Fr. Paulinus Petrus Batu, alumni Program Studi Akuntansi angkatan 2019, memilih jalur studinya bukan tanpa alasan. Ketertarikannya pada keteraturan dan prinsip transparansi menjadi dasar utama dalam menentukan arah karir. Baginya, pengelolaan keuangan yang akuntabel merupakan pondasi penting dalam membangun kepercayaan publik, khususnya bagi kongregasi religius dan yayasan pendidikan.
Saat ini, ia menjalankan tugas sebagai staf keuangan sekaligus auditor internal di Yayasan Taman Tunas. Perannya mencakup pengelolaan arus kas operasional unit pendidikan dari tingkat TK hingga SMA, serta memastikan seluruh proses keuangan berjalan sesuai prosedur. Ia juga terlibat dalam pengawasan internal untuk menjaga efisiensi anggaran dan meminimalkan risiko, termasuk potensi piutang yang tidak tertagih.
Setelah menyelesaikan studi sarjana, Fr. Paulinus melanjutkan pengembangan kompetensinya dengan mengikuti program Brevet Pajak A dan B di LP3I Kupang. Langkah ini diambil untuk memperkuat pemahaman teknis di bidang perpajakan, sehingga setiap analisis keuangan yang dilakukan tetap selaras dengan regulasi yang berlaku.
Kepercayaan dari kongregasi membawanya pada penugasan baru di Yayasan Taman Tunas Makassar. Di tempat ini, ia bertanggung jawab mengawasi kesehatan finansial seluruh unit pendidikan. Tugas tersebut menuntut evaluasi menyeluruh terhadap sistem dan manajemen keuangan agar tetap transparan, akuntabel, serta adaptif terhadap kondisi ekonomi.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya terjadi saat menjalani tugas kuliah, yaitu melakukan wawancara langsung dengan kepala desa dan perangkatnya untuk memverifikasi pengelolaan dana desa sesuai regulasi. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa data tidak cukup hanya dilihat di atas kertas, tetapi perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan. Kemampuan komunikasi yang profesional dan persuasif juga menjadi kunci dalam memperoleh informasi yang akurat.
Pengalaman lapangan itu kini menjadi dasar dalam menjalankan pekerjaannya. Ia tidak hanya membaca laporan keuangan, tetapi juga berupaya memahami kondisi ekonomi yang memengaruhi, termasuk situasi orang tua siswa. Pendekatan ini membantunya melihat persoalan secara lebih komprehensif.
Di awal masa kerja, Fr. Paulinus menghadapi tantangan berupa kesenjangan antara teori akuntansi dan praktik di lapangan. Sistem keuangan yang tidak selalu berjalan ideal serta kondisi “angka merah” di beberapa unit menjadi ujian tersendiri. Untuk menghadapinya, ia berupaya memahami karakter masing-masing unit, merapikan administrasi keuangan, serta menjaga koordinasi dengan berbagai pihak.
Dalam menjalankan tugas, ia mengandalkan sejumlah keterampilan dan nilai yang diperoleh selama masa studi. Kemampuan analisis keuangan membantunya membaca pola dan potensi risiko, sementara sikap skeptisisme profesional mendorongnya untuk selalu memverifikasi data. Di atas itu semua, integritas dan kedisiplinan menjadi prinsip utama dalam menjaga kepercayaan.
Kepada mahasiswa, ia menekankan pentingnya menguasai detail dan memahami regulasi yang terus berkembang. Selain itu, ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga mengasah kepekaan terhadap kondisi lapangan. Integritas dan jejaring pertemanan juga dinilai penting sebagai penopang dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
Ia berharap almamaternya, Universitas Katolik Widya Mandira, terus mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral. Praktik lapangan dinilai perlu diperkuat agar mahasiswa lebih siap menghadapi realitas profesional. Sementara itu, komunitas alumni diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi yang saling mendukung dan berkontribusi bagi masyarakat.
Melalui perannya saat ini, Fr. Paulinus menunjukkan bahwa akuntansi bukan sekadar angka, tetapi juga tentang tanggung jawab, kejujuran, dan kemampuan membaca realitas di balik laporan keuangan.
Punya cerita inspiratif? Bagikan sekarang!