Ketika sebagian orang masih mencari arah setelah lulus kuliah, Eugenia Febriani Habu justru bergerak di dua lintasan sekaligus. Lulusan Teknik Sipil Universitas Katolik Widya Mandira angkatan 2020 ini kini menetap di Bali dan menjalani dua profesi yang kontras, tetapi saling melengkapi: Quantity Surveyor di perusahaan konstruksi, Assistant Manager Social Media untuk sebuah villa dan salon milik pengusaha Jepang.

Perjalanannya tidak dimulai dengan mulus. Setelah lulus SMK, Eugenia sempat bercita-cita menjadi arsitek sebelum akhirnya menemukan kecocokan di Teknik Sipil. Ia diwisuda pada Maret 2025, di tengah kebimbangan antara melanjutkan studi LPDP atau langsung bekerja. Jawabannya datang empat bulan kemudian, saat sebuah PT konstruksi di Denpasar menawarkannya posisi QS bidang yang kini ia tekuni dengan penuh antusias.

Sebagai QS, Eugenia bertanggung jawab pada perencanaan biaya proyek, pengadaan material, hingga penyusunan jadwal. Tanggung jawab itu sempat membuatnya gentar. “Saya takut salah, takut dimarahi, takut tidak berkembang,” tuturnya. Namun, rasa ragu itu terurai saat ia menemukan lingkungan kerja yang hangat dan suportif. Di situlah ia menyadari bahwa kepercayaan diri sering kali tumbuh dari orang-orang yang memberi ruang untuk belajar.

Kesempatan Kedua: Dari Housekeeper ke Social Media Manager

Pintu rezeki lain terbuka secara tidak terduga. Demi menambah pemasukan sebagai perantau, Eugenia melamar sebagai housekeeper di sebuah villa. Namun, begitu membaca CV-nya, sang pemilik justru melihat potensi lain. Dalam hitungan hari, Eugenia beralih posisi menjadi Assistant Manager bagian marketing dan sosial media, pekerjaan yang sejalan dengan kreativitas yang ia kembangkan selama kuliah.

Ia kini mengelola konten TikTok dan Instagram, mengatur tampilan visual, serta merancang strategi promosi dua bisnis sekaligus. “Ini pekerjaan yang benar-benar saya nikmati. Sesuai minat dan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya,” katanya.

Mahasiswa Ekstrover yang Tidak Pernah Diam

Kecakapan Eugenia hari ini bukanlah keberuntungan instan. Selama kuliah, ia dikenal sebagai mahasiswa superaktif. Semester demi semester ia isi dengan organisasi dan kegiatan kampus: HMJ, Campus Ministry, UKM Paduan Suara, hingga menjadi panitia PKKMB selama tiga tahun berturut-turut. Ia juga menjadi MC berbagai acara, mengikuti program TAP dan Ambassador Telkomsel, dan terpilih menjadi bagian dari By.U Buddies.

Pengalaman internasionalnya bertambah saat ia berangkat ke Mojokerto dalam program COP/KKN Internasional bersama peserta dari berbagai negara. Di sana ia menyadari bahwa kemampuan berbahasa bukan sekadar soal grammar, tetapi keberanian untuk mencoba.

Ia juga menorehkan sejumlah prestasi, mulai dari 5 besar Duta Rupiah NTT, juara desain wastra, hingga membawa pulang medali emas bersama tim UMKM Paduan Suara dalam PESPARAWI Mahasiswa Nasional.

Dari Ruang Kuliah ke Lapangan Proyek

Dunia kerja memaksa Eugenia memadukan teori akademik dengan dinamika lapangan. Ia harus membiasakan diri dengan tempo komunikasi masyarakat Bali yang lebih pelan, sekaligus mempelajari istilah lapangan yang jauh berbeda dari buku kuliah. “Scaffolding jadi ‘kapolding’, itu baru salah satu,” ujarnya sambil tertawa.

Namun, justru di situlah ia memahami bahwa nilai akademik bukan satu-satunya tolok ukur. “Pengetahuan dan keterampilan yang kita latih sendiri adalah modal sebenarnya.”

Terima Kasih untuk Almamater

Ada rasa bangga yang ia simpan untuk kampusnya. Di tengah komentar miring tentang kuliah di NTT, Eugenia adalah bukti nyata bahwa kualitas tidak ditentukan oleh lokasi. Ia menutup kisahnya dengan ucapan terima kasih kepada dosen-dosen yang telah membentuknya, serta pesan bagi mahasiswa yang masih menjalani masa kuliah:

Datang ke kampus. Duduk di depan. Bertanya jika tidak paham. Ikut organisasi. Bangun keterampilan. Karena menurutnya, “Ketika wisuda selesai, barulah kita merasakan manfaat dari semua hal yang kita lakukan selama menjadi mahasiswa.”


Punya cerita inspiratif? Bagikan sekarang