Siapa sangka, pilihan Emilia Tri Susanti untuk mengambil Pendidikan Musik angkatan 2020 bukan hanya soal kecintaan pada nada dan harmoni. Ada alasan yang jauh lebih dalam: ia melihat bahwa musik di banyak sekolah masih dianggap sekadar pelengkap. Padahal, menurutnya, musik punya kekuatan besar dalam membentuk kepribadian, kreativitas, dan kepercayaan diri anak.

“Saya ingin menunjukkan bahwa musik itu penting. Bukan cuma untuk hiburan, tapi juga untuk perkembangan otak dan karakter,” ungkapnya.

Setelah Lulus, Justru Memilih Berhenti Sejenak

Emilia menyelesaikan studinya pada 2024. Alih-alih langsung bekerja, ia memberi dirinya jeda setahun. Sebuah keputusan yang mungkin jarang diambil mahasiswa baru lulus. Namun bagi Emilia, tahun itu sangat berharga.

Ia memperdalam teknik musik, ikut pelatihan pedagogik, dan terlibat aktif di gereja: latihan koor, melatih anggota KBG, hingga memimpin sebagai dirigen. Dari sana ia belajar sesuatu yang tidak diajarkan di kelas: bagaimana mengelola orang, menyatukan suara-suara berbeda, dan memimpin dengan lembut namun tegas.

Pintu Rezeki Terbuka di Samarinda

Lalu, pada Juli 2025, Emilia resmi diterima sebagai guru Seni Musik di SMA Katolik St. Fransiskus Assisi Samarinda yang berada di bawah Yayasan FSE. Inilah awal dari perjalanan panjangnya mengajar generasi muda.

“Menjadi guru seni musik itu perannya unik,” ceritanya. “Bukan hanya soal teknik bermain alat musik, tapi juga menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan rasa percaya diri anak.”

Di sekolah ini, ia mulai menyusun perangkat pembelajaran, menghidupkan ruang kelas, hingga mendampingi pementasan dan lomba musik. Setiap perkembangan kecil siswa menjadi kebahagiaan tersendiri baginya.

Dosen-dosen yang Meninggalkan Jejak Manis

Saat kembali mengenang masa kuliah, Emilia selalu bersemangat. Ia menceritakan betapa hangatnya para dosen Pendidikan Musik. “Mereka disiplin, tertib, tapi humoris dan baik. Saya nyaman sekali belajar di sana. Love you Dosen-Dosen Pendidikan Musik,” katanya. 

Masuk Dunia Kerja? Tidak Semanis Bayangan

Meski pekerjaan impiannya sudah di tangan, bukan berarti semuanya berjalan mulus. Emilia harus berhadapan dengan ritme kerja yang padat, penyesuaian dengan budaya kantor, dan perbedaan gaya komunikasi antar rekan.

Kadang ia kewalahan. Kadang ia bingung harus menempatkan diri. Tapi Emilia memilih satu cara: observasi terlebih dahulu, lalu beradaptasi dengan cerdas. Keterampilannya membaca dan menulis partitur, serta pengalaman memimpin paduan suara, sangat membantunya menyiapkan kelas dan mengajar dengan percaya diri.

Belajar adalah Rutinitas yang Tak Pernah Selesai

Emilia percaya satu hal: dunia berubah cepat, dan guru tak boleh berhenti belajar. Ia mendorong dirinya untuk terus membaca, mengikuti tren pendidikan, hingga mempelajari keterampilan digital. “Jangan takut gagal,” ujarnya. “Kegagalan itu justru umpan balik paling jujur yang kita dapat.”

Doa, Pegangan yang Tak Pernah Ditinggalkan

Di tengah tugas mengajar, persiapan pementasan, hingga jadwal yang padat, ada satu hal yang selalu Emilia jaga: berdoa. Baginya, doa adalah tempat ia kembali, tempat ia menenangkan diri, dan tempat ia menimba kekuatan.

“Semangat dan jangan lupa selalu berdoa,” katanya memberikan pesan sederhana namun penuh makna.

Kini, Emilia terus mengajar di SMA Katolik St. Fransiskus Assisi Samarinda. Ia bangga melihat siswanya tumbuh, berani tampil, dan menemukan suara mereka sendiri. Di ruang kelas yang penuh alat musik dan tawa remaja, Emilia merasa berada di tempat yang tepat.

Karena bagi Emilia, musik bukan hanya pekerjaan ia adalah panggilan hidup.


Punya cerita inspiratif? Bagikan sekarang