Sejak awal, Willyam Masae sudah merasa dekat dengan dunia seni. Jauh sebelum mengenal gambar kerja dan istilah teknis, ia lebih dulu jatuh cinta pada kanvas dan cat lukis. “Saya dulu suka melukis, bahkan beberapa kali ikut lomba dan juara,” katanya. Dari kegemaran itulah ia mulai melihat arsitektur sebagai ruang temu antara seni dan logika, antara rasa dan perhitungan.

Ketertarikan tersebut membawanya memilih Program Studi Arsitektur Universitas Katolik Widya Mandira. Ia masuk sebagai mahasiswa angkatan 2003 dan menyelesaikan studinya pada 2009. Bagi Willyam, masa kuliah menjadi periode pembentukan diri yang sangat menentukan. “Yang paling berdampak itu Studio Perancangan. Di situ kita bisa berkreasi tanpa ada batasan,” ujarnya. Namun ia juga menekankan pentingnya mata kuliah struktur yang mengajarkannya berpikir realistis. “Ide boleh bebas, tapi tetap harus bisa dipertanggungjawabkan secara teknis.”

Selepas lulus, Willyam memulai karier sebagai konsultan perencana di Kabupaten Alor. Dua tahun di sana menjadi pintu masuknya ke dunia profesional sebelum akhirnya bergabung dengan PT PP (Persero) Tbk. Perjalanan kariernya pun berkembang pesat, dari drafter, architecture engineering, hingga site engineer di berbagai proyek besar. Ia terlibat dalam pembangunan gedung kampus, proyek kementerian di Timor Leste, kawasan komersial di Jakarta, hingga hotel dan apartemen di berbagai kota.

Seiring berjalannya waktu, Willyam semakin bersentuhan dengan teknologi Building Information Modeling. Ia kemudian dipercaya mengemban peran sebagai BIM Engineer dan BIM Koordinator, sembari tetap menjalankan tugas sebagai Site Engineer. “Peran site engineer itu menjembatani desain di kantor dengan realisasi di lapangan. Kita harus memastikan semua sesuai gambar, spesifikasi, dan jadwal,” jelasnya.

Salah satu titik penting dalam kariernya terjadi saat ia terlibat dalam proyek Gedung Kementerian Sekretariat Negara di Kawasan Inti Ibu Kota Nusantara. Dari proyek tersebut, Willyam membawa pulang dua penghargaan bergengsi. “Puji Tuhan, di proyek IKN saya mendapat Juara 3 BIM ASEAN Competition dan Juara 2 Best BIM Divisi Gedung,” katanya dengan nada syukur.

Namun jalan yang ia tempuh tidak selalu mulus. Willyam mengakui bahwa tantangan terbesarnya saat awal bekerja adalah teknologi. “Jujur saja, di zaman kami kuliah masih sangat mengandalkan meja gambar,” tuturnya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dari sisi keilmuan arsitektur, para dosen UNWIRA sangat membekali mahasiswa dengan dasar yang kuat. “Ilmu arsitekturnya sangat bisa diandalkan, tinggal bagaimana kita mau terus belajar dan beradaptasi.”

Selain teknologi, perbedaan karakter dan budaya kerja juga menjadi tantangan tersendiri. “Karakter kita dari timur itu berbeda dengan orang-orang dari Jawa pada umumnya,” katanya. Pengalaman tersebut justru membentuk sikap profesionalnya. “Kita harus belajar fleksibel dan yang paling penting, rendah hati.”

Kini, Willyam bertugas di Riau sebagai BIM Koordinator sekaligus Site Engineer pada proyek RS UPT Vertikal. Di tengah tuntutan kerja yang tinggi, ia terus memegang prinsip hidup yang sederhana namun kuat. “Yang paling sulit itu bukan mengalahkan orang lain, tapi mengalahkan diri sendiri,” ujarnya. Ia percaya bahwa keberanian keluar dari zona nyaman adalah kunci untuk bertumbuh.

Di akhir percakapan, Willyam menyampaikan harapannya untuk almamater tercinta. “Saya berharap Arsitektur UNWIRA semakin maju dan mampu beradaptasi dengan teknologi dan tantangan global,” katanya. Bahkan, ia menyimpan mimpi yang lebih besar. “Saya hanya ingin suatu saat ada sarjana Arsitektur UNWIRA yang bisa menaklukkan Asia.”


Punya cerita inspiratif? Bagikan sekarang